Solusi Masalah Burung

Solusi Masalah Burung

Kamis, 08 Mei 2014

IPB Berlakukan Anti Berburu Di Kawasan Kampus



Gudang Burung - Institut Pertanian Bogor (IPB) lebih dari setahun telah dicanangkan sebagai ‘Kampus Biodiversitas’ oleh Rektor Profesor Herry Suhardiyanto. 

Niat mulia ini tentunya mengingat Kampus IPB Dramaga memiliki potensi keanekaragaman hayati, berupa flora dan fauna, sekaligus salah satu spot biodiversitas tertinggi di Kawasan Bogor.
Burung merupakan salah satu satwaliar yang populasinya terbanyak di Kampus IPB Dramaga. Ini tidak lepas dari masih banyaknya pepohonan yang tumbuh di sekitarnya, seperti keberadaan tegakan sengon, hutan campuran, arboretum fahutan, arboretum bambu, lengkap dengan lanskap taman yang menyediakan berbagai jenis pakan bagi satwa bersayap ini.
Kelompok Pemerhati Burung (KPB) ‘Perenjak’ dari Himakova pernah melakukan monitoring keberadaan burung-burung di Kampus IPB Dramaga Hasilnya cukup mengejutkan karena lebih dari 85 spesies burung berbeda ditemukan. 
“Demi menjaga kelestarian aves ini, KPB Perenjak sudah menerbitkan buku panduan identifikasi jenis-jenis burung di Kampus IPB Dramaga,” kata Ketua KPB, M Fahmi Permana.
Meski telah dicanangkan sebagai ‘Kampus Biodiversitas’ atau ‘Kampus Konservasi,’ nyatanya IPB Dramaga belum terlepas dari ancaman perburuan burung yang tanpa mengindahkan tagline kampus tetap mengambil manfaat untuk kepentingan pribadi. 
Mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE), Reza Aulia mengaku sering memergoki langsung bagaimana lincahnya pemburu perorangan atau kelompok ini menggunakan berbagai metode untuk mencuri kekayaan burung di lingkungan IPB.
Cara yang mereka gunakan beragam, mulai dari menggunakan jaring, hingga menggunakan burung lain sebagai pemikat bagi burung yang akan diburu,” ujar Reza. 
Metode pemikat burung ini terbilang unik, sebab pemburu menggantungkan sangkar burung di ranting pohon pada ketinggian tertentu. Di dalam kandang tersebut, pemburu biasanya sudah mengikatkan seekor burung (jantan atau betina) yang kakinya sudah diikat, kemudian biasanya akan berkicau untuk menarik perhatian burung lain.
Burung-burung kampus yang tertarik dengan Si Burung Pemikat akan masuk ke kandang tersebut dan secara otomatis kandang itu akan menutup dengan sendirinya. 
Reza sering kali menemukan kandang-kandang burung pemikat ini tergantung di Kebun Cikabayan. “Saya sudah berulang kali menegur mereka (si pemburu), namun belum ada efek jera,” ujarnya.
Sebagai bentuk antisipasi sementara, KPB bekerjasama dengan Uni Konservasi Fauna telah memasang sejumlah papan peringatan di beberapa lokasi yang sering dijadikan tempat berburu burung. Misalnya papan peringatan yang bertuliskan larangan untuk berburu di lingkungan kampus.
Ironi para pemikat burung
Belum adanya dasar hukum yang jelas menjadi hambatan bagi Himakova untuk menindak kehadiran para pemburu sekaligus pemikat burung di lingkungan Kampus IPB Dramaga.  Pembina KPBDr Yeni Aryati Mulyani mengaku sudah beberapa kali melaporkan pelanggaran tersebut kepada IPB melalui milis staf.
“Sayangnya, sejauh ini belum ada respon dari yang berwenang (pihak rektorat),” ujar Yeni. Salah satu dosen pengajar di DKSHE ini melihat jika pimpinan IPB memberlakukan kebijakan formal di lapangan, maka seluruh civitas akademika IPB lebih percaya diri untuk menegur atau mengingatkan si pelaku di lapangan. Mereka juga bisa meminta semua pihak berwenang, seperti Kepala RT, RW, dan Lurah untuk ikut memelihara keanekaragaman hayati di wilayah kampus.
Yeni mengatakan gerakan konservasi seperti yang dilakukan anggota-anggota Himakovamembutuhkan dukungan kuat dari segenap lini dan pimpinan IPB. 
Khususnya dukungan kebijakan tegas berupa aturan dan sanksi terkait kelestarian biodiversitas di Kampus IPB Dramaga. Jika untuk mengonservasi kampus seluas 250 hektare (ha) saja kita gagal, bagaimana mungkin kita mampu mengonservasi hutan Indonesia yang luasnya lebih dari 130 juta ha? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...