Solusi Masalah Burung

Solusi Masalah Burung

Jumat, 25 April 2014

101 Jenis Burung Ditemukan Badan Lingkungan Hidup Natuna


Gudang Burung - Badan Lingkungan Hidup Natuna menemukan 101 jenis burung ang hidup di Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna. Selain itu ditemukan 16 jenis burung imigran dari  bumi belahan Utara seperti Eropa Utara dan Asia.

 
Penemuan fauna tersebut setelah dilakukan penelitian bersama pusat penelitian biologi LIPI tahun 2013 lalu.

Kasubdid konservasi dan tata lingkungan BLH Pemkab Natuna Hazriani mengatakan, 101 jenis burung tersebut masih hidup bebas di hutan. Jenis burung imigran, hanya pada waktu tertentu terlihat di kawasan pantai di Natuna.

Beberapa jenis burung imigran hasil penelitian diantaranya, Adrea Alah atau cangak besar, Charadirius Mongolius atau cerek pasir mongoli, argelta gerzetta kontul kecil, ergelta intermedia atau kuntul perak, limosa, numenius arguata, nemenius phalupus.

Hasil penelitian ditemukan beberapa jenis burung yang populasinya mendekati terancam kepunahan dan jenis burung yang dilindungi Undang Undang nomor 7 tahun 1999 an PP nomor 8 tahun 1999, seperti burung cangak besar, kuntul kecil, kuntul perak, kuntul karang, kuntul kerbau, elang bondol, elang laut perut putih, elang ular bido, elang hitam.

“Penelitian bersama LIPI, kami menemukan 101 jenis burung yang hidup dipulau Bunguran ini. Jenis tersebut, ada16 jenis burung imigran, 29 jenis burung dilindungi dan 9 jenis burung mendekati populasinya terancam,” ungkap Hazriani di kantornya, Selasa (22/4).

Hazriani mengaku, penelitian yang dilakukan bersama pusat peneliti biologi LIPI juga menemukan keanekaragaman hayati flora dan fauna. Dan diperkirakan terdapat 285 jenis tumbuhan berhasiat obat ditahun 2012. Serta menemukan 34 jenis mamalia. 29 jenis katak, 58 jenis reptil, 7 jenis serangga (tawon), 56 jenis kupu kupu, 29 jenis capung, 34 jenis ikan air tawar, hasil penelitian tahun 2013.

Data yang dimiliki saat ini sambungnya, merupakan langkah awal perencanaan konservasi keanekaragaman hayati dalam penetapan kebijakan dan pelaksanaan konservasi. 

Hingga pemanfaatan kelanjutan, pengendalian kerusakan ragam hayati dan pengembangan sistem informasi dan pengelolaan  database.

Menurutnya, rencana pemerintah daerah mewujudkan wilayah konservasi keanekaragaman hayati harus disejalankan dengan penyadaran masyarakat, secara harmonis antara pemerintah dan masyarakat dengan memahami aturan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...