Solusi Masalah Burung

Solusi Masalah Burung

Selasa, 31 Desember 2013

Tebar Mino, Ritual Pelepasan Burung di Solo


Gudang BurungRibuan warga Pucangsawit, Solo, Jawa Tengah, memadati ruas jalan Ir Juanda untuk melihat dari dekat kirab budaya Tebar Mino atau melepas ratusan bibit ikan ke Sungai Bengawan Solo yang digelar baru-baru ini. Ritual juga melepas puluhan ekor burung ke alam bebas di lokasi Urban Forest yang terletak di bantaran Bengawan Solo.


Kemeriahan kirab sebagai simbol kebangkitan warga bantaran Bengawan Solo, setelah direlokasi ke tempat baru yang bebas banjir, berjalan cukup meriah. Puluhan jajanan pasar serta beberapa nasi tumpengan ikut dikirab.

Bahkan, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, yang kebetulan warga Pucangsawit, pun tak mau ketinggalan ikut kirab. Rudy, panggilan akrabnya, rela berjalan kaki walapun saat itu terik panas matahari cukup menyengat menuju lokasi Tabur Mino.

Setibanya di lokasi, dengan sigap Rudy langsung mengambil bibit ikan yang sudah dipersiapkan dan melepaskannya ke Sungai Bengawan Solo dari atas tanggul. Usai melepas bibit ikan ke Sungai Bengawan Solo, orang nomor satu di Kota Solo itupun menuju kandang burung yang telah dikirab tersebut.

Di dalam sangkar burung terdapat puluhan ekor burung yang siap dilepaskan. Sayangnya, sebelum Wali Kota melepas burung-burung tersebut ke alam bebas, warga yang sedari tadi menunggu di depan kandang, tanpa dikomando langsung saling berebut mendapatkan burung tersebut. Melihat warganya saling memperebutkan burung-burung yang seharusnya dilepaskan ke alam bebas, Rudy buru-buru mengambil burung-burung tersebut untuk dilepaskan.

"Walah jebolane wis podo ngeteni arep jupuk burung iki toh. Iki burung kanggo dilepas, dudu dicekel (Walah, ternyata sudah pada menunggu untuk mendapatkan burung. Ini buat dilepas, bukan untuk ditangkap lagi-red)," kata Rudy kepada warganya.

Meski telah diperingati Wali Kota, warga seolah tak menggubris sehingga terlihat antara Rudy dan warganya saling berebut burung. Rudy berusaha mengambil burung tersebut dan melepaskan sedangkan warga berusaha mengambilnya untuk dibawa pulang dan dipelihara.

Rudy mengatakan, kegiatan ini digelar untuk mengajak masyarakat Kota Solo mencintai lingkungan, baik air, tumbuhan, maupun udara. Rudy berharap agar misi mengembalikan Sungai Bengawan Solo seperti semula bisa tercapai melalui kegiatan budaya ini.

“Misinya tetap, mengajak masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan, baik itu air, udara dan tumbuhan," imbuhnya.

Rudy mengakui meskipun telah digelar sebanyak tiga kali, kirab budaya Tebar Mino masih banyak kekurangan. Rencananya, Tebar Mino akan diperbaiki pengelolaannya agar ke depannya kegiatan tersebut sejajar dengan kegiatan budaya lainnya, yaitu Grebek Sudiroprajan.

“Tapi, yang terpenting Pucangsawit yang merupakan kawasan bantaran Sungai Bengawan Solo melalui kirab budaya ini menjadi sadar kalau melestarikan Sungai Bengawan Solo itu jauh lebih penting sehingga mereka tidak sembarangan dalam memperlakukan kawasan di sekitar bantaran Bengawan Solo,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...