Solusi Masalah Burung

Solusi Masalah Burung

Kamis, 31 Oktober 2013

Cerita Unik Dari Azizin


Gudang BurungSaat ini bisnis burung berkicau lagi booming. Hal ini bisa dilihat dari ramainya pasar burung di berbagai tempat. Jika hari Minggu atau libur penggemar burung tumplek blek di pasar burung. 

Peluang inilah yang dibidik oleh Azizin (30) warga desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak. Enam bulan ini ia membuka usaha jual beli burung berkicau di rumahnya. Ia mendatangkan berbagai jenis burung berkicau dari Kalimantan.

"Dulu sebelum terjun bisnis burung ini saya kerja pabrik di Pontianak Kalimantan. Ketika ada peluang bisa membawa burung dari Kalimantan sayapun akhirnya membuka bisnis jual burung ini," Kata Azizin yang ditemui di rumahnya.

Azizin mengatakan tahun 2002 ia sudah merantau ke Kalimantan sebagai pekerja proyek, petugas kebersihan dan berbagai kerja serabutan lain. Sampailah ia terdampar di kantor Karantina Hewan sebagai tenaga honorer. Di situlah ia tahun bagaimana cara memasukkan hewan ke luar pulau. Selain burung ada berbagai macam jenis hewan dan ikan bisa di bawa keluar pulau secara legal.

Melihat kesempatan itu ketika pulang ke Jawa ia membawa beberapa burung berkicau yang terkenal di Pulau Kalimantan. Selain Murai batu, Cucak Hijau, Kacer Poci dan banyak lagi yang lainnya. Sampai di rumahnya burung itu kemudian menjadi dagangan yang cukup laris. Satu ekor burung ia bisa meraup untung Rp 50 ribu sampai 100 ribu.

Melihat peluang yang bagus itu iapun menghubungi rekannya yang kerja di kantor Karantina hewan. Dari temannya di Kalimantan itulah ia mendapatkan kiriman burung yang dikirim lewat paket. Satu kali kirim ada 20 sampai 30 ekor burung berbagai jenis. Burung-burung itu dikirim via kapal laut sehingga iapun mengambil burung itu di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

"Sebulan biasanya 3 sampai 4 kali kirim, satu kali kirim minimal 20 ekor burung. Ketika awal buka usaha saya memang bawa burung ke pasar-pasar burung sekitar Jepara. Namun sekarang para bakul sudah langsung datang ke rumah saya jika burung dari Kalimantan datang," kata Azizin.

Dulu awal pertama kali ia membawa burung ke pasar, namun hal itu justru membuat para bakul terganggu. Oleh karena itu sekarang ia hanya duduk manis di rumah menunggui dagangannya. Para bakul sudah datang sendiri ke rumahnya. Selain datang dari Pecangaan, Purwogondo, Mayong dan Jepara. Beberapa pedagang burung ada yang dari Kudus atau Demak.

"Bisnis burung berkicau ini sangat lumayan untungnya. Jika sesama bakul kita mengambil untung paling tinggi Rp 50 ribu. Namun jika dijual ke konsumen keuntungannya bisa Rp 100 ribu lebih. Apalagi jika burungnya bagus keuntungan lebih besar lagi," papar Azizin.

Selama menekuni bisnis burung selama 6 bulan ini Azizin mengaku tidak pernah merugi. Modalnyapun relative kecil karena pembayaran burung dengan sistem laku bayar. Artinya setelah burung laku baru ia membayar burung kepada pemasok dengan sistem transfer via bank. Satu kali kiriman biasanya ia mentranfer uang berkisar Rp 4 sampai 5 juta rupiah.

Menurut Azizin bisnis burung berkicau jika ditekuni hasilnya cukup lumayan. Satu kali kiriman dengan jumlah burung minimal 20 ekor untungnya bisa mencapai 1 juta rupiah. Kalau dijual ke konsumen untungnya bisa lebih besar lagi. Oleh karena itu setelah berbisnis burung ini ia tidak lagi kerja ke Kalimantan.

"Ya setelah ini ya saya di rumah menunggu dagangan burung ini. Kalau barang habis ya kerja ke tambak membuat garam . Kalau kondisi laut tidak ombak sebulan bisa 3 sampai 4 kali kiriman. Namun kalau cuaca kurang bagus sebulan paling 1 sampai 2 kali kiriman," kata Azizin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...