Solusi Masalah Burung

Solusi Masalah Burung

Rabu, 13 Maret 2013

Sensus Burung Air


Gudang BurungSudah lama tidak mengamati burung dan bermain ke Suaka Margasatwa Muara Angke [SM.Muara Angke]. Tak kusia-siakan ajakan dari Ferry Hasudungan yang bekerja di Wetlands International untuk ikutan sensus burung air di SM.Muara Angke. Dan berangkatlah Sabtu tanggal 31 Januari lalu. Sekaligus memperingati Wetlands Day yang jatuh pada tanggal 2 Februari.
Berhenti di Depan Pizza Hut Angke, kami langsung menuju pintu gerbang perumahan Pantai Indah Kapuk. Sempat berhenti sekitar lima menit di jembatan Angke, melihat keruhnya Kali Angke dan sampah-sampah plastik yang mengambang. Ada yang menarik, dari semak belukar, ada yang bergoyang-goyang. Ternyata, seekor burung berwarna abu-abu, kecil. Sepertinya Merbah cerukcuk.
Kami tak berlama-lama di jembatan Angke. Masih sekitar 500 meter lagi menuju pintu masuk SM.Muara Angke. Berjalan menyusuri trotoar yang becek dan bertanah merah, Menepi di antara rumput-rumput yang berembun. Besaing dengan kendaraan yang kencang melintas di jalanan.
“ Jakarta Green Monster Present : Water Bird Cencus 2009” tertulis di banner, tepat di pintu masuk SM.Muara Angke. Di depan Pos Muara Angke, di teras aula pertemuan, sudah menunggu panitia Bird Cencus, dan Ady Kristanto staf FFI yang mengkoordinir kegiatan.
Jam menunjukkan 08.25. Peserta baru diberangkatkan menuju titik pengamatan. Ada yang menyusuri Kali Angke, dengan perahu karet. Terus kelompok lain meuju Hutan Lindung Angke. Aku dan Ferry dapat jatah pengamatan di Muara Angke, menyusuri board walk, papan jalur pengamatan sepanjang 800 meter. Wow! Ini pertama kalinya aku menyusuri board walk. Terakhir datang ke Muara Angke, papannya sudah pada hancur. Takut terjerembab.
Selain papan pijakan, di SM. Angke sudah ada bird hide yaitu tempat bersembunyi saat mengamati burung. Tapi sangat jauh berbeda dengan yang pernah kulihat di Cagar Alam Titchwell, Inggris. Berbentuk bangunan kayu, hanya muat untuk beberapa orang saja. Dengan satu pintu dan lubang pengamatan, seperti di loket stasiun kereta api, cukup untuk menyimpan binokuler saja.Betul-betul tersembunyi, dan burungnya tidak terganggu oleh manusia yang mengamati. Dindingnya ditempel poster, gambar-gambar burung yang bisa diamati di sekitar danau di Titchwell. Memudahkan pengamat amatir, seperti saya.
Bird hide yang ada di Muara Angke, banyak digunakan untuk tempat beristirahat. Kisi-kisi dindingnya terlalu lebar. Luas ruangannya bisa memuat 20 orang. Siapa saja bisa lalu lalang mengganggu pengamatan burung. Tidak ada privasi. Bisa jadi, burungnya bisa melihat ke arah manusia.
Kurang lebih 1,5 jam menyusuri Board Walk. Sekitar 20 jenis burung air yang dijumpai dan dicatat peserta. Ada Pecuk padi hitam, Pecuk padi kecil, Pecuk padi asia, Bambangan merah, Bambangan hitam, Blekok sawah, Kokokan laut, Kowak malam kelabu, Kuntul besar, Kuntul kerbau, Kuntul kecil, Cangak abu, Cangak merah, Cangak laut, Itik benjut, Tikusan alis putih, Kareo padi, Mandar batu, Trinil pantai, Dara laut sp. Kami juga sempat di cegat gerombolan Monyet ekor panjang di antara daun Nipah. Ngeri deh! Ada monyet yang menyeringai, memperlihatkan giginya, merasa terancam.
Tepat jam 11.30 peserta melaporkan hasil pengamatannya di aula pertemuan. Peserta sensus burung air ini mahasiswa dari Universitas Indonesia, Universitas Nasional, Universitas Islam Negeri, Universitas Negeri Jakarta dan Universitas As-syafi’iyah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...